Kamus Obat

Download more awesome themes for your blogger platform #templatetrackers Follow us @ Google+ and get weekly updates of new templates we release regularly

 


Deskripsi :

Obat paten adalah obat baru yang diproduksi oleh sebuah perusahaan farmasi. Perusahaan farmasi tersebut sudah memiliki hak paten untuk membuat obatnya.

Tentang :


Perbedaan Obat Paten dan Obat Generik

Obat paten adalah obat baru yang diproduksi oleh sebuah perusahaan farmasi. Perusahaan farmasi tersebut sudah memiliki hak paten untuk membuat obatnya. Proses pembuatan obat melewati serangkaian uji klinis dan penelitian sesuai dengan aturan internasional.

Obat yang telah memiliki hak paten tidak boleh diproduksi atau dipasarkan oleh perusahaan farmasi lain. Ketika masa hak patennya sudah habis, maka hak paten tersebut tidak bisa diperpanjang. Setelah itu, obat sudah bisa diproduksi oleh perusahaan farmasi lain dalam bentuk obat generik. Maka itu, obat generik adalah obat yang sudah habis masa patennya, sehingga bisa diproduksi oleh perusahaan farmasi lain tanpa perlu membayar royalti.

Obat generik terbagi menjadi 2, obat generik dan obat generik berlogo (OGB). OGB adalah obat yang penamaannya disesuaikan dengan zat aktif yang terkandung di dalamnya. Misalnya obat yang mengandung triamcinolone yang dijual dengan nama Triamcinolone. 

Ada pula obat generik bermerek yang biasanya pada nama obatnya tercantum nama perusahaan farmasi yang memproduksinya. Misalnya obat deksametason yang dijual dengan nama Dexa - M.

Yang Perlu Kamu Ketahui tentang Obat Generik

Kandungan

Kandungan di dalam obat generik tidak 100% sama dengan kandungan obat paten. Namun, obat generik diharuskan menduplikasi bahan-bahan aktif yang ada di dalam obat paten. Yang boleh berbeda hanyalah bahan-bahan yang tidak aktif. Kamu tidak perlu khawatir karena bahan aktif adalah bahan yang penting dan memiliki peran utama dalam mengatasi atau mengobati penyakit.

 

Efektivitas

Efektivitas obat sangat dipengaruhi oleh kualitas, kekuatan, kemurnian, dan stabilitas unsur kimia. Selain itu waktu penyerapan obat juga penting. Banyak orang yang mengira bahwa proses penyerapan tubuh obat generik memerlukan waktu yang lebih lama. Padahal, asumsi tersebut salah. Obat generik tetap memiliki kekuatan, kualitas, kemurnian, dan cara kerja yang sama sehingga kalaupun ada perbedaan dalam penyerapan tubuh, hanya sedikit dan masih dalam batas aman. Kesimpulannya, obat generik memiliki efektivitas yang sama dengan obat bermerek.

Pemakaian Mesin Produksi

Karena harganya yang lebih murah, orang seringkali berpikir bahwa obat generik dibuat dengan mesin yang tidak memadai. Padahal, persepsi tersebut lagi-lagi keliru karena obat generik juga dibuat menggunakan mesin berteknologi sama dengan obat paten.


Apa Perbedaan Obat Generik dan Obat Paten?

Beberapa perbedaan antara obat generik dan paten memang diizinkan oleh otoritas internasional. Hal tersebut dapat mengubah bentuk atau warna pada obat generik. Namun, perbedaan tersebut tidak memengaruhi kualitas obat. Obat generik bisa memiliki perbedaan dengan obat paten, namun sebatas pada bentuk, warna, kemasan, dan labelnya. Obat generik juga diizinkan untuk mengandung bahan tidak aktif yang berbeda seperti aspek rasa. Namun, bahan tidak aktifnya juga harus melewati pemeriksaan dari otoritas internasional.

Kenapa Obat Generik Lebih Murah?

Seperti yang sudah disebutkan, banyak orang yang ragu karena obat generik lebih murah ketimbang obat paten. Padahal, perbedaan harga tersebut hanya disebabkan oleh biaya proses pembuatan untuk bisa dijual di pasaran. 

Obat paten lebih mahal karena membuat obat baru itu membutuhkan biasa manufaktur yang banyak, termasuk biaya penelitian, uji coba obat berskala besar, serta biaya pemasaran seperti iklan dan promosi. Maka itu, untuk memperoleh balik modal, perusahaan farmasi tersebut diberikan hak paten selama 20 tahun.

Ketika masa hak paten tersebut selesai, perusahaan lain diizinkan untuk membuat dan menjual obat paten tersebut dalam versi obat generik. Perusahaan yang menjual obat generik tidak perlu melalui proses pembuatan seperti penelitian dan uji coba skala besar yang membutuhkan biaya besar.


Apakah Kualitas Obat Generik Bisa Dipercaya?

Kamu tidak usah khawatir karena obat generik memiliki kualitas yang sama dengan obat paten. Untuk bisa membuktikan bahwa kualitas obat generik sama dengan obat paten, perusahaan harus menunjukkan bahwa tidak ada perubahan signifikan pada tingkatan dan taraf penyerapannya dalam tubuh. Para ilmuwan melakukan tes untuk mengukur perbedaan dan menjelaskan hasilnya dalam bentuk presentase. Mereka menyetujui bahwa 20% perbedaan atas penyerapan obat itu dapat diterima.

Pemeriksaan tersebut terbukti efektif. Otoritas internasional juga melaporkan bahwa selama ini tidak ada masalah yang terjadi terkait dengan variasi penyerapan obat pada tubuh yang sesuai dengan aturan tersebut. Selain itu, telah dilakukan pula banyak penelitian tentang variasi penyerapan pada tubuh antara obat paten dan obat generik. Dari semua penelitian yang telah dilakukan, terbukti bahwa rata-rata variasi atau perbedaan penyerapannya hanya 3.5%. Angka tersebut sangat rendah ketimbang dengan batas variasi yang telah ditetapkan secara internasional, yaitu 20%.

Deskripsi :

Acyclovir topikal digunakan untuk mengobati cold sore atau luka melepuh akibat virus herpes simpleks yang terjadi di sekitar bibir atau wajah. Acyclovir topikal memperlambat pertumbuhan virus herpes agar tubuh bisa lebih efektif melawan infeksi. Acyclovir topikal membantu meredakan rasa sakit dan gejala yang muncul. Selain itu, obat ini juga membantu mempercepat penyembuhan luka.

Acyclovir topikal tidak bisa menyembuhkan atau mencegah herpes, tapi hanya menghambat perkembangan infeksi.  Selain itu, obat ini juga tidak bisa mencegah penularan infeksi pada orang lain atau kekambuhan infeksi.

Merek Dagang :

Acifar Cream, Matrovir 400, Zovirax Cream, Temiral

Peringatan :

  • Acyclovir topikal tidak boleh mengenai mata, hidung, dan mulut. Basuh dengan air jika masuk ke daerah-daerah tersebut. Obat ini hanya boleh digunakan pada bagian luar kulit.
  • Selalu bersihkan tangan dengan rutin setelah mengoleskan obat ini ke bagian tubuh yang terinfeksi agar tidak menyebar ke bagian tubuh lainnya atau menular ke orang lain.
  • Bagi wanita hamil, menyusui, atau yang sedang berencana untuk hamil, sesuaikan anjuran dokter tentang pemakaian obat ini.
  • Tanyakan dosis acyclovir topikal untuk anak-anak kepada dokter.
  • Obat ini tidak menghambat penyebaran herpes genital. Hindari berhubungan seksual saat serangan infeksi muncul atau kambuh.
  • Jika gejala tidak membaik dalam satu minggu, segera temui dokter.
  • Jika terjadi reaksi alergi, segera temui dokter.
  • Pasien yang memiliki hipersensitivitas terhadap acyclovir dan valacyclovir sebaiknya tidak menggunakan obat ini.

Dosis :

Kandungan standar acyclovir dalam obat topikal adalah 5%. Obat ini sebaiknya dioleskan sekitar 5-6 kali sehari selama 5-10 hari, terutama pada saat sebelum tidur atau sebelum istirahat.


Menggunakan dengan Benar :

Pastikan untuk membaca petunjuk pada kemasan obat dan mengikuti anjuran dokter dalam menggunakan acyclovir topikal. Obat ini bekerja lebih maksimal jika langsung dioleskan ketika gejala awal muncul.

Oleskan acyclovir topikal setiap 4 jam sekali, paling baik adalah pada pukul 07.00, 11.00, 15.00, 19.00, dan 23.00.

Pastikan bahwa Anda menyelesaikan dosis yang sudah diresepkan oleh dokter. Jika infeksi tidak membaik setelah menyelesaikan dosis yang diresepkan, segera temui dokter.

Jika memungkinkan, gunakan sarung tangan karet sekali pakai untuk mengoleskan acyclovir topikal pada luka untuk mencegah penyebaran infeksi. Agar efek obat ini tidak hilang, jangan mandi atau berenang setelah memakainya.

Sebelum mengoleskan krim maupun salep, bersihkan dan keringkan daerah yang akan diolesi. Oleskan obat secara perlahan-lahan hingga menutupi daerah yang terinfeksi. Cucilah tangan dengan sabun dan air sebelum dan setelah mengoleskan obat-obatan ini.

Obat ini hanya digunakan pada kulit luar, jangan dioleskan pada mata, hidung, bagian dalam dari mulut, atau vagina. Jika terkena bagian-bagian tersebut, segera basuh dengan air hingga bersih.


Interaksi :

Acyclovir topikal dapat menyebabkan gangguan fungsi dari obat talimogene laherparepvec, yaitu obat kanker yang merangsang tubuh untuk memproduksi antitumor.


Efek Samping :

Acyclovir topikal dapat menimbulkan efek samping berupa kulit mengelupas, gatal-gatal, atau kering. Efek samping tersebut dapat juga terjadi pada area genital bagi yang menggunakan obat ini untuk meredakan herpes simplex. Selain itu, obat acyclovir topikal khusus mata dapat menyebabkan gangguan penglihatan pada pengguna, sehingga dapat membahayakan keselamatan diri pada saat mengemudi atau menjalankan mesin. Efek samping acyclovir topikal muncul pada 1 dari 10 orang pengguna.


Referensi :

Dutt, S. et. al. (2016). Clinical Efficacy of Oral and Topical Acyclovir in Herpes Simplex Virus Stromal Necrotizing Keratitis. Indian J Ophthalmol. 64(4), pp. 292-295. 
Spruance, S. et. al. (2002). Acyclovir Cream for Treatment of Herpes Simplex Labialis: Results of Two Randomized, Double-Blind, Vehicle-Controlled, Multicenter Clinical Trials. Antimicrob Agents Chemother. 46(7), pp. 2238–2243. 
Larsen, F. Dermnet New Zealand (2004). Aciclovir. 
NIH (2016). MedlinePlus. Acyclovir Topical. 
Mayo Clinic (2017). Drugs and Supplements. Acyclovir (Topica Route). 
Allen, H. Patient (2015). Aciclovir Cream. 
Drugs (2018). Acyclovir Cream. 
Drugs (2017). Acyclovir Topical. 
Drugs (2018). Imlygic. 
MIMS Indonesia (2018). Aciclovir. 
WebMD (2017). Acyclovir. 
WebMD (2018). Acyclovir Cream.

Deskripsi :

Acyclovir oral adalah obat yang dapat digunakan untuk mengobati infeksi akibat virus, seperti Varicella zoster dan Herpes simplex. Obat ini umumnya dikonsumsi guna mengatasi luka melepuh pada mulut (cold sore), penyakit herpes genital, cacar air, serta cacar api (herpes zoster).

Acyclovir oral tidak bisa mematikan virus sepenuhnya dari tubuh. Obat ini hanya berfungsi untuk mengurangi risiko perkembangan dan penyebaran virus ke bagian  tubuh lain, serta meminimalisir kemungkinan virus kembali menginfeksi di masa mendatang.

Acyclovir oral juga berfungsi untuk mencegah infeksi virus pada orang-orang dengan sistem kekabalan tubuh yang rendah. Dari fungsinya tersebut, obat ini dapat mengurangi tingkat keparahan dan lamanya infeksi, mempercepat penyembuhan luka, mencegah pembentukan luka baru, serta mengurangi nyeri atau rasa gatal akibat infeksi.

Merek Dagang :

Acifar, Matrovir, Zovirax Tablet

Peringatan :

  • Bicarakan pada dokter jika memiliki alergi pada obat atau bahan tertentu.
  • Konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter sebelum menggunakan acyclovir jika memiliki masalah pada ginjal atau kondisi yang dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh (misalnya menderita HIV/AIDS atau baru menjalani transplantasi ginjal).
  • Informasikan kepada dokter sebelum menggunakan acyclovir jika akan menjalani vaksinasi atau suatu prosedur medis, termasuk operasi.
  • Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obat lain, termasuk obat bebas, suplemen, atau
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Menggunakan dengan Benar :

Bacalah petunjuk pada kemasan obat dan ikuti anjuran dokter dalam mengonsumsi acyclovir.

Pastikan untuk menghabiskan dosis yang sudah diresepkan meski kondisi dirasa membaik agar infeksi tidak kambuh kembali. Jika infeksi tidak membaik setelah menyelesaikan dosis yang diresepkan, temuilah dokter kembali.

Jangan berbagi obat ini dengan orang lain meski memiliki gejala yang sama.

Disarankan untuk tidak menunda-nunda waktu dalam mengonsumsi obat ini, karena hasil pengobatan akan lebih efektif jika dimulai sejak awal gejala timbul.

Hindari sinar matahari terik dan senantiasa memakai tabir surya ketika akan beraktivitas di luar rumah, karena acyclovir dapat membuat kulit menjadi lebih sensitif terhadap sinar matahari. Selain itu, obat ini juga dapat menyebabkan kantuk. Karena itu, jangan berkendara, mengoperasikan mesin, atau melakukan aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan selama menggunakan acyclovir.

Pastikan ada jarak waktu yang cukup dan teratur antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Usahakan untuk mengonsumsi acyclovir pada jam yang sama setiap harinya untuk memaksimalkan efek obat.

Bagi pasien yang lupa mengonsumsi acyclovir, disarankan untuk segera melakukannya jika jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Interaksi :

Berhati-hatilah saat mengonsumsi acyclovir oral dengan:

  • Probenecid, cimetidine, mycophenolate mofetil; karena berisiko meningkatkan kadar acyclovir dalam darah.
  • Ciclosporin, tacrolimus, atau obat lainnya yang mempengaruhi kerja ginjal; karena dapat meningkatkan toksisitas pada ginjal.

Efek Samping :

Beberapa efek samping yang bisa saja terjadi setelah mengonsumsi acyclovir adalah:

  • Diare.
  • Sakit perut, mual, atau kembung.
  • Sakit kepala atau pusing.
  • Demam
  • Ruam gatal.
  • Lelah.
  • Mengantuk.
  • Perubahan jumlah urine.
  • Nyeri punggung atau pinggang.
  • Perubahan suasana hati.

Jika Anda mengalami efek samping yang berkepanjangan atau reaksi alergi serius, segera temui dokter.


Referensi :

Dutt, S. et. al. (2016). Clinical Efficacy of Oral and Topical Acyclovir in Herpes Simplex Virus Stromal Necrotizing Keratitis. Indian J Ophthalmol. 64(4), pp. 292-295. 
Schwartz, G. Holland, E. (2000). Oral Acyclovir for The Management of Herpes Simplex Virus Keratitis in Children. Ophthalmology. 107(2), pp. 278-282. 
Larsen, F. Dermnet New Zealand (2004). Aciclovir. 
WebMD (2017). Drugs & Medications. Acyclovir. 
Allen H., Patient (2016). Aciclovir for viral infections. 
MIMS (2018). Aciclovir. 
Healthline (2016). Acyclovir, Oral Tablet.






Deskripsi :

Acetylcysteine adalah obat golongan mukolitik yang berfungsi untuk mengencerkan dahak yang menghalangi saluran pernapasan. Oleh karena itu, obat ini tidak cocok diberikan untuk penderita batuk kering.

Dahak kental yang menempel dan menghambat saluran pernapasan biasanya muncul akibat penyakit pada paru-paru, yang meliputi bronkitis, tuberkulosis, pneumonia, serta cystic fibrosis. Obat ini bekerja dengan cara mengencerkan dahak sekaligus membantu untuk melancarkan saluran pernapasan.

Selain itu, acetylcysteine juga digunakan untuk mengatasi efek keracunan akibat konsumsi paracetamol.

Merek Dagang :

Acetylcysteine, Alstein, Cecyl, Fluimucil, Hidonac, Mucylin, Nalitik, Nytex, Pectocil, Resfar

Peringatan :

  • Harap berhati-hati dalam menggunakan obat ini bila memiliki riwayat asma atau sakit maag.
  • Beri tahu dokter jika sedang mengonsumsi obat-obatan lain, termasuk produk herba dan suplemen, untuk menghindari interaksi antar obat atau efek samping obat.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter.

Dosis :

Berikut dosis acetylcysteine untuk beberapa kondisi dan usia:

Kondisi: Mengencerkan dahan (mukolitik)

  • Oral
    Dewasa dan anak usia >7 tahun: 600 miligram per hari sebagai dosis tunggal, atau dibagi menjadi tiga dosis.
    Anak usia 1-24 bulan: 100 mg, 2 kali sehari.
    Anak usia 2-7 tahun: 200 mg, 2 kali sehari.

Kondisi: Keracunan paracetamol

  • Suntik
    Dewasa dan anak dengan berat badan >40 kg: Sebagai dosis awal, infus 150 mg/kgBB (maksimal 16,5 g) dilarutkan dalam cairan 200 mL, selama 60 menit.Lanjutkan dengan dosis 50 mg/kgBB (maksimal 5,5 g) dilarutkan dalam cairan 500 mL, selama 4 jam. Selanjutnya 100 mg/kgBB (maksimal 11 g) dilarutkan  dalam cairan 1 L, selama 16 jam.
    Anak dengan berat badan 20-40 kg: Sebagai dosis awal, 150 mg/kgBB dilarutkan dalam cairan 100 mL, selama 60 menit.Lanjutkan dengan dosis 50 mg/kg dilarutkan dalam cairan 250 mL, selama 4 jam.Lanjutkan kembali dengan 100 mg/kg/BB dilarutkan dalam cairan 500 mL, selama 16 jam.
    Anak dengan berat badan <20 kg: Sebagai dosis awal, infus 150 mg/kgBB dilarutkan dalam cairan 3 mL/kgBB, selama 60 menit.Lanjutkan dengan dosis 50 mg/kgBB dilarutkan dalam cairan 7 mL/kgBB, selama 4 jam.Selanjutnya 100 mg/kgBB dilarutkan dalam cairan 14 mL/kgBB, selama 16 jam.

Menggunakan dengan Benar :

Gunakan acetylcysteine sesuai anjuran dokter dan jangan lupa untuk membaca keterangan pada kemasan.

Kapsul acetylcysteine sebaiknya langsung ditelan. Jangan mengunyah atau menghancurkan kapsul.

Larutkan satu sachet granul acetylcysteine ke dalam air putih sesuai dengan takaran yang dianjurkan pada label. Aduk larutan sampai merata sebelum diminum.

Untuk tablet effevescent acetylcysteine dilarutkan terlebih dahulu ke dalam segelas air sebelum dikonsumsi. Obat ini wajib diminum tidak lebih dari dua jam setelah dilarutkan.

Untuk sirop kering acetylcysteine, kocok botol terlebih dahulu sebelum membuka tutupnya. Larutkan isi botol sirop kering menggunakan air putih dengan takaran yang sesuai petunjuk pada label, lalu aduk sampai merata. Simpan obat yang sudah dilarutkan ke lemari pendingin dan maksimal hanya boleh digunakan sampai satu minggu ke depan.

Usahakan untuk mengonsumsi acetylcysteine pada jam yang sama setiap harinya agar pengobatan maksimal. Bagi pasien yang lupa mengonsumsi acetylcysteine, disarankan untuk segera melakukannya jika jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Simpan obat di tempat bersuhu ruangan. Hindarkan dari paparan sinar matahari langsung dan jangkauan anak-anak.

Suntikan acetylcysteine hanya diberikan oleh dokter. Dokter akan memastikan cairan suntik acetylcysteine dalam keadaan baik sebelum digunakan, yaitu tidak terdapat kebocoran dan tidak keruh.


Interaksi :

Jangan mengonsumsi acetylcysteine bersamaan dengan antibiotik tetracycline. Pastikan ada jarak setidaknya dua jam sebelum dan sesudah mengonsumsi acetylcysteine ini.

Penggunaan antitusif atau pereda batuk, seperti codeine, juga sebaiknya dihindari selama memakai acetylcysteine, karena berpotensi memicu penumpukan dahak.

Hindari pula penggunaan obat nitrogliserin, karena berpotensi meningkatkan efek melebarkan pembuluh darah dari nitrogliserin.

Efek Samping :

Efek samping yang mungkin timbul setelah menggunakan acetylcysteine adalah:

  • Mengantuk
  • Mual
  • Muntah
  • Sariawan
  • Pilek
  • Demam

Segera temui dokter jika efek samping tidak mereda, juga bila mengalami reaksi alergi, nyeri dada, sesak napas, sakit perut, perdarahan, atau tinja berwarna hitam.


Referensi :

Millea, P. (2009). N-acetylcysteine: Multiple Clinical Applications. Am Fam Physician. 80(3), pp. 265-269. 
Mokhtari, V. et. al. (2017). A Review on Various Uses of N-Acetyl Cysteine. Cell J. 19(1), pp. 11–17. 
National Institute of Health : Livertox (2018). Acetylcysteine. 
BPOM RI (2018). Cek Produk BPOM. Acetylcysteine. 
Mayo Clinic (2017). Drugs and Supplements. Acetylcysteine (Oral Route). 
Drugs.com (2018). Acetylcystine Effervescent Tablets. 
Drugs.com (2018). Acetylcystine Solution. 
Drugs.com (2018). Acetylcysteine Pregnancy and Breastfeeding Warnings. 
Electronic Medical Compendium (2016). Acetylcysteine Powder for Oral Solution. 
Medicines.org.uk (2017). Acetylcysteine 200mg Powder for Oral Solution. 
Mims Indonesia (2018). Acetylcysteine. 
Mims Indonesia (2018). Fluimucil. 
Medscape (2018). Acetylcysteine (Rx). 
WebMD. Drugs & Medications. Acetylcysteine Tablet, Effervescent. 
WebMD. Drugs & Medications. Acetylcysteine 100 Mg/Ml (10%) Solution.

Deskripsi :

Acetazolamide adalah obat golongan diuretik yang dapat digunakan untuk mencegah dan mengurangi gejala penyakit ketinggian (altitude sickness), seperti sakit kepala, kelelahan, pusing, muntah, dan sesak napas. Gejala ini biasanya dialami oleh seseorang yang melakukan pendakian menuju dataran tinggi (di atas 3.000 meter di atas permukaan laut) dengan laju yang terlalu cepat.

Ketika pendakian dilakukan terlalu cepat, tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan tekanan udara dan rendahnya kadar oksigen yang ada di ketinggian. Hal itu menyebabkan terjadinya kebocoran cairan pada pembuluh darah kapiler. Cairan ini akan menyebar ke otak, paru-paru, dan bagian tubuh lain, menumpuk, hingga akhirnya menyebabkan gejala-gejala penyakit ketinggian. Acetazolamide bekerja dengan cara mengurangi penumpukan cairan tersebut.

Selain itu, acetazolamide dapat dikombinasikan dengan obat lainnya untuk mengatasi penyakit glaukoma dan mengontrol kejang pada epilepsi.

Merek Dagang :

- Glauseta

Peringatan :

  • Hati-hati menggunakan acetazolamide bila pernah atau sedang mengalami hipokalemia, hiponatremia, asidosis, gangguan hati, gangguan ginjal, sirosis, penyakit paru obstruktif kronis, emfisema, dan diabetes.
  • Beri tahu dokter jika sedang mengonsumsi obat-obatan lain, terutama antibiotik sulfonamida dan aspirin.
  • Penggunaan acetazolemide pada pasien lanjut usia harus dengan anjuran dan pengawasan dokter.
  • Hindari mengemudi atau mengoperasikan mesin selama menjalani pengobatan dengan acetazolamide, karena obat ini dapat menyebabkan kantuk.
  • Obat ini dapat menurunkan kadar kalium dalam tubuh. Selama menjalani pengobatan, perbanyak mengonsumsi makanan atau minuman yang banyak mengandung kalium, seperti pisang atau jus jeruk.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis setelah mengonsumsi acetazolamide, segera temui dokter.

Dosis :

Dosis Acetazolamide berbeda-beda untuk setiap pasien. Berikut ini adalah dosis umum penggunaan Acetazolamide untuk beberapa kondisi:

  • Mencegah dan meredakan gejala penyakit ketinggian
    Dewasa: 500-1000 mg per hari, yang dibagi menjadi beberapa jadwal konsumsi. Dianjurkan untuk diminum 1-2 hari sebelum pendakian. Jika diperlukan, dapat dilanjutkan selama 2 hari saat berada di dataran tinggi.
  • Epilepsi dan glaukoma
    Dewasa: 250-1000 mg per hari, yang dibagi menjadi beberapa jadwal konsumsi. Dapat diminum sebagai obat tunggal atau dikombinasikan dengan obat lain.
    Anak di atas 12 tahun: 8-30 mg/kgBB, dalam dosis yang dibagi menjadi beberapa jadwal konsumsi. Dosis maksimal adalah 750 mg per hari.
  • Diuresis
    Dewasa: 230-375 mg, sekali sehari.

Menggunakan dengan Benar :

Dalam mengonsumsi acetazolamide, ikuti anjuran dokter dan baca petunjuk yang tertera pada kemasan obat.

Acetazolamide dapat dikonsumsi sebelum atau setelah makan.

Pastikan untuk mengonsumsi acetazolamide pada waktu yang sama setiap harinya, agar hasil pengobatan maksimal. Bagi pasien yang lupa mengonsumsi acetazolamide, disarankan untuk segera melakukannya begitu ingat, apabila jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Segera temui dokter jika gejala tidak kunjung membaik.


Interaksi :

Berikut ini adalah interaksi yang dapat terjadi jika menggunakan acetazolemide dengan obat lain:

  • Meningkatkan kadar phenytoin dalam darah dan risiko osteomalacia.
  • Berpotensi meningkatkan efek samping obat antifolat, seperti pyrimethamine.
  • Dapat mengurangi efektivitas lithium.
  • Meningkatkan risiko batu ginjal, jika dikonsumsi dengan natrium bikarbonat.
  • Meningkatkan kadar obat ciclosporin dalam darah.
  • Meningkatkan risiko anoreksia, asidosis, koma, atau kematian, jika dikonsumsi dengan aspirin dosis tinggi.

Efek Samping :

Efek samping yang mungkin timbul setelah mengonsumsi acetazolamide adalah:

  • Mengantuk
  • Kebingungan
  • Anoreksia
  • Kejang
  • Kesemutan
  • Sensitif terhadap sinar matahari
  • Lemas
  • Kelumpuhan

Referensi :

Leaf, D. Goldfarb, D. (2007). Mechanisms of Action of Acetazolamide in The Prophylaxis and Treatment of Acute Mountain Sickness. J Appl Physiol (1985). 102(4), pp. 1313-1322 
Ritchie, N. et. al. (2012). Acetazolamide for The Prevention of Acute Mountain Sickness - A Systematic Review and Meta-Analysis. J Travel Med. 19(5), pp. 298-307. 
American College of Cardiology (2012). Acetazolamide. 
BPOM RI. Cek Produk BPOM (2018). Acetazolamide. 
Medscape (2018). Acetazolemide (Rx). 
MIMS Indonesia (2018). Acetazolemide. 
Web MD (2018). Acetazole. 
Drugs.com (2018). Acetazole.


Deskripsi :

Obat penghambat enzim pengubah angiotensin atau angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor adalah obat yang berfungsi untuk melemaskan pembuluh darah. Di sisi lain, obat ini dapat membantu mengurangi jumlah cairan yang dapat diserap kembali oleh ginjal.

Dengan kedua khasiat tersebut, ACE inhibitor banyak digunakan untuk mengatasi penyakit hipertensi (tekanan darah tinggi), gagal jantung, serangan jantung, sebagian penyakit yang terkait dengan diabetes, serta penyakit ginjal kronis.

ACE inhibitor bekerja dengan cara menghambat enzim dalam tubuh untuk memproduksi hormon angiotensin II atau zat yang dapat menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan kerja jantung. Dengan obat ini, pembuluh darah menjadi melebar, sehingga tekanan pada pembuluh darah berkurang, begitu pun jumlah cairan yang mengalir dalam pembuluh darah. Kondisi tersebut dapat membantu menurunkan tekanan darah dan meringankan kerja jantung.

Peringatan :

  • Konsultasikan kepada dokter jika sedang menggunakan obat lain, sebelum menggunakan ACE inhibitor. Obat antiinflamasi nonsteroid, seperti ibuprofen dan naproxen, dapat menurunkan efektivitas ACE inhibitor jika dikonsumsi secara bersamaan.
  • Selama mengonsumsi ACE inhibitor, pasien perlu melakukan pemeriksaan darah secara teratur, terutama 1-2 minggu setelah mengonsumsi obat ini. Hal tersebut berguna untuk mengetahui fungsi ginjal, karena risiko gangguan ginjal dapat terjadi pada sebagian pasien yang mengonsumsi ACE inhibitor.
  • Harap berhati-hati jika Anda menderita angioedema (pembengkakan pada kulit bagian dalam) dan penyakit ginjal.
  • Seluruh obat ACE inhibitor masuk ke dalam kategori C pada trimester pertama, yaitu studi pada binatang percobaan memperlihatkan adanya efek samping terhadap janin, namun belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin. Pada trimester kedua dan ketiga, masuk ke dalam kategori D, di mana ada bukti positif mengenai risiko terhadap janin manusia, tetapi besarnya manfaat yang diperoleh mungkin lebih besar dari risikonya, misalnya untuk mengatasi situasi yang mengancam jiwa.
  • Tidak ada penelitian mengenai keamanan mengonsumsi ACE inhibitor saat menyusui. Captopril dan enalapril merupakan obat ACE inhibitor yang dianggap aman dikonsumsi saat menyusui.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis setelah menggunakan ACE inhibitor, segera temui dokter.

Efek Samping :

Efek samping yang paling sering dialami setelah mengonsumsi ACE inhibitor adalah batuk kering yang terus-menerus. Sedangkan efek samping lain yang lebih jarang terjadi adalah penurunan fungsi ginjal, angioedema, hiperkalemia, kelelahan, pusing, serta kehilangan daya pengecap.

Lainnya :

Berikut ini adalah jenis-jenis obat yang termasuk ke dalam golongan obat penghambat enzim pengubah angiotensin (ACE inhibitor). Untuk mendapatkan penjelasan secara lebih detail mengenai efek samping, peringatan, atau interaksi dari masing-masing obat ACE inhibitor, silakan lihat pada menu daftar obat

Ramipril

Merek dagang Ramipril: Cardace, Decapril, Triatec

  • Hipertensi
    Dewasa: 2,5-10 mg, sekali sehari.
  • Gagal jantung
    Dewasa: 1,25 mg sebagai dosis awal. Dosis maksimal adalah 10 mg per 1-2 kali sehari.
  • Pasca serangan jantung
    Dewasa: 2,5 mg, bisa ditingkatkan hingga 5 mg per hari, 2 kali sehari.
  • Pencegahan aterosklerosis bagi pasien berisiko tinggi
    Dewasa: 2,5 mg sekali sehari sebagai dosis awal. Dosis maksimal adalah 10 mg per hari.

Lisinopril

Merek dagang Lisinopril: Odace, Tensinop

  • Hipertensi
    Dewasa: 2,5-80 mg per hari.
  • Nefropati Diabetik
    Dewasa: 10-20 mg sekali sehari.
  • Gagal Jantung
    Dewasa: dosis awal 2,5 - 40 mg sekali sehari.
  • Pasca serangan jantung
    Dewasa: 5-10 mg per

Perindopril

Merek dagang Perindopril: Bioprexum

  • Hipertensi
    Dewasa: 5-10 mg per hari.
  • Gagal jantung
    Dewasa:5-5 mg setiap pagi, sekali sehari.
  • Serangan jantung
    Dewasa: 4 mg sekali sehari.
    Lansia: 2-2,5 mg sekali sehari.

Enalapril

Merek dagang Enalapril: Tenaten

  • Hipertensi
    Anak dengan berat badan 20-50 kg:5-20 mg per hari.
    Anak dengan berat badan lebih dari 50 kg: 5-40 mg per hari.
    Dewasa: 2.5-40 mg per hari, 1-2 kali sehari.
  • Gagal jantung
    Dewasa: 2,5-40 mg per hari, 1-2 kali sehari.

Captopril

Merek dagang  Captopril: Farmoten, Tensicap, Tensobon

  • Nefropati Diabetik
    Dewasa: 75-100 mg per hari.
  • Pasca serangan jantung
    Dewasa: dosis awal 6,25 mg per hari, dilanjutkan hingga 12,5 mg selama 2 hari, lalu 25 -100 mg selanjutnya.
  • Hipertensi
    Dewasa: 12,5-50 mg yang dikonsumsi ketika akan tidur, 2-3 kali sehari.
    Bayi dan anak-anak: 0,15-0,3 mg/kgBB yang dibagi menjadi 2-3 jadwal konsumsi. Dosis maksimal adalah 6 mg/kgBB.
  • Gagal jantung
    Dewasa: 6,25-50 mg per hari, 2-3 kali sehari.
    Anak-anak: 0,25-5 mg/kg BB per hari.

Trandolapril

Merek dagang Trandolapril: Tarka

  • Hipertensi
    Dewasa: 5-4 mg per hari, 1-2 kali sehari.
  • Pasca serangan jantung
    Dewasa: 5-4 mg sekali sehari, dimulai 3 hari setelah serangan.

Referensi :

Ghanem, FA Movahed, A. (2008). Use of Antihypertensive Drugs during Pregnancy and Lactation. Cardiovascular Therapeutics, 26, pp 38-49 
Messerli, F. et. al. (2018). Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors in Hypertension: To Use or Not to Use?. J Am Coll Cardiol. 71(13), pp. 1474-1482. 
Wong, J. (2004). The Clinical Use of Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors. Prog Cardiovasc Dis. 47(2), pp. 116-130. 
Texas Heart Institute. ACE Inhibitors. 
Mayo Clinic (2016). Disease and Conditions. Angiotensin-Converting Enzime (ACE) Inhibitors. 
MIMS Indonesia (2018). Captopril. 
MIMS Indonesia (2018). Enalapril. 
MIMS Indonesia (2018). Lisinopril. 
MIMS Indonesia (2018). Perindopril. 
MIMS Indonesia (2018). Ramipril. 
MIMS Indonesia (2018). Trandolapril. 
Rull, G. Patient (2017). ACE inhibitor.

Acarbose adalah obat antidiabetes yang digunakan untuk menangani diabetes tipe 2. Acarbose berfungsi untuk mengontrol kadar gula darah dengan cara memperlambat proses pencernaan karbohidrat menjadi senyawa gula yang lebih sederhana, sehingga membantu menurunkan kadar gula dalam darah setelah makan.

Untuk mengendalikan diabetes, acarbose bisa digunakan bersama dengan obat lainnya, seperti insulin, metformin, atau glibenklamid. Jika kadar gula darah dapat terkontrol, maka penderita diabetes bisa terhindar dari komplikasi diabetes, seperti gagal ginjal, stroke, kebutaan, kerusakan saraf, serangan jantung, kehilangan keseimbangan, serta impotensi. Obat ini harus dikonsumsi sesuai dengan resep dokter, dan tidak diperuntukkan bagi penderita diabetes yang berusia 18 tahun ke bawah.

Merek Dagang :

Acrios, Acarbose, Capribose, Carbotrap, Ditrium, Glubose, Glucobay

Peringatan :

  • Beri tahu dokter jika memiliki alergi terhadap obat ini.
  • Beri tahu dokter jika menderita gangguan ginjal, gangguan hati, obstruksi usus, gangguan penyerapan makanan, hernia, serta peradangan usus seperti kolisitis ulseratif atau penyakit Crohn.
  • Konsumsi permen atau sirup jika terjadi hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah) selama mengonsumsi acarbose.
  • Beri tahu dokter jika sedang menggunakan obat-obatan lainnya, termasuk suplemen dan produk herba.
  • Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis setelah mengonsumsi acarbose, segera temui dokter.
  • Dosis :Dosis awal acarbose bagi penderita diabetes tipe 2 adalah 50 mg per hari. Selanjutnya, dosis dapat ditingkatkan menjadi 50 mg, 3 kali sehari. Jika tubuh penderita merespons pengobatan dengan baik maka dalam rentang waktu minimal 6-8 minggu, dosis bisa ditingkatkan menjadi 100-200 mg, 3 kali sehari

Dosis :

Dosis awal acarbose bagi penderita diabetes tipe 2 adalah 50 mg per hari. Selanjutnya, dosis dapat ditingkatkan menjadi 50 mg, 3 kali sehari. Jika tubuh penderita merespons pengobatan dengan baik maka dalam rentang waktu minimal 6-8 minggu, dosis bisa ditingkatkan menjadi 100-200 mg, 3 kali sehari.


Menggunakan dengan Benar :

Ikuti anjuran dokter dan baca petunjuk yang tertera pada kemasan obat, dalam mengonsumsi acarbose. Jangan mengubah dosis acarbose tanpa sepengetahuan dokter. Dosis obat akan disesuaikan dengan kondisi medis, berat badan, dan respons pasien terhadap pengobatan.

Untuk mendapatkan efek pengobatan yang maksimal, dianjurkan untuk menjalani pola makan yang sehat, olahraga teratur, dan rutin memeriksakan kadar gula darah serta urine ke dokter.

Acarbose dikonsumsi saat makan, yaitu bersama suapan makan pertama. Bila sulit menelan obat secara utuh, tablet acarbose boleh dikunyah

Pastikan ada jarak waktu yang cukup antara satu dosis dengan dosis berikutnya. Usahakan untuk mengonsumsi acarbose pada jam yang sama setiap harinya untuk memaksimalkan efeknya.

Bagi pasien yang lupa mengonsumsi acarbose, disarankan untuk segera melakukannya begitu ingat apabila jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Simpan obat di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari paparan sinar matahari langsung, serta jauhkan dari jangkauan anak-anak.


Berikut ini adalah interaksi yang dapat terjadi jika menggunakan acarbose bersama dengan obat lainnya:

  • Meningkatkan risiko efek samping acarbose, jika digunakan dengan cholestyramine dan neomycin.
  • Meningkatkan risiko hipoglikemia jika digunakan bersama dengan obat antidiabetes lain, seperti glibenklamid.
  • Mengurangi efektivitas acarbose jika digunakan bersama dengan obat adsorben saluran pencernaan, seperti karbon aktif (charcoal) atau obat digestan (amilase dan pancreatin).
  • Menghambat penyerapan digoxin.

Efek Samping :

Efek samping yang mungkin timbul setelah mengonsumsi acarbose adalah:

  • Perut kembung
  • Sering buang angin
  • Nyeri lambung
  • Diare
  • Gangguan fungsi hati
  • Mual dan muntah

Hentikan pemakaian obat dan segera temui dokter bila timbul memar pada tubuh, mimisan, gusi berdarah, sakit kuning, ruam atau gatal di seluruh tubuh, pembengkakan di wajah, bibir, dan lidah, serta kesulitan bernapas.

Referensi :

DiNicolantonio, J. et. al. (2015). Acarbose: Safe and Effective for Lowering Postprandial Hyperglycaemia and Improving Cardiovascular Outcomes. Open Heart. 2(1), pp. e000327.
He, K. et. al. (2014). Safety and Efficacy of Acarbose in The Treatment of Diabetes in Chinese Patients. Ther Clin Risk Manag. 10, pp. 505–511. 
BPOM RI. Cek Produk BPOM. Acarbose. 
Mayo Clinic (2017). Drugs and Supplements. Acarbose (Oral Route). 
Marks, J. Ogbru, O. MedicineNet (2017). Acarbose. 
Electronic Medicine Compendium (2013). Acarbose 50mg and 100mg Tablets. 
Medscape (2018). Acarbose (Rx). 
MIMS Indonesia (2018). Acarbose. 
Stewart, M. Patient (2017). Acarbose for Diabetes. 
WebMD (2018). Acarbose.